Gunung
yang berketinggian 3.726 mdpl dan merupakan Gunung tertinggi ketiga di Negeri
ini. Gunung ini memiliki panaroma yang bisa dibilang paling bagus di antara
gunung-gunung di Indonesia. Berada di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat
Saat ku gapai Puncak Gunung Rinjani yang pertama kali 16
Agustus 2013 yang lalu, Janji ku waktu itu ialah “aku akan kembali lagi”
Kenangan akan pendakian itu
pun bermunculan. Puncak gunung, matahari terbit, suara-suara binatang
hutan ataupun kenangan perjuangan menggapai puncak saat itu pun masih teringat
sangat segar, tapi… perjuangan itu nampaknya perlu di Refresh (di segarkan
kembali)
Aku
akan kembali lagi Bukan untuk sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige
atau catatan rekor yang harus disimpan, apalagi sebentuk pujian… Aku hanya
merasa rindu dan Gunung menginginkan aku kembali.. Itu saja..
Aku ingin menjadikan pengalaman mendaki
Gunung Rinjani ini bak mutiara, dan mutiara itu adalah Menggapai Mahkota Dewi
Anjani, Kabutnya, Savananya, dan Bukit Penyiksaannya…
Tepatnya bulan September 2013, sahabat aku dari Semarang
mengajakku untuk kembali ke Gunung Rinjani…
tanpa pikir panjang, langsung aku mengiyakannya..
kita atur jadwal…, setelah jadwal kami sepakati, pada tanggal 3 November 2013. awalnya
kami berencana ke pulau Lombok berangkat menggunakan Pesawat dari Juanda – BIL,
Aku yang di tugaskan mencari/boking tiket pesawat, setelah
menjelajahi beberapa situs boking, akhirnya aku dapatkan tiket pesawat LION Air
dengan harga Rp.606000/tiket, kami rencana berdua, jadi nya total Rp.1.212.000
untuk tiket pesawat.
Awalnya aku tidak menaruh curiga pada tiket yang sudah aku
boking dan sudah aku bayar, tapi… ketika 2 minggu sebelum kami berangkat ke
Lombok, aku cek ulang Tiket nya, ternyata Tiket yang aku boking adalah Tiket
BODONG.., aku cek ke pihak maskapai, jawabannya ‘tiket sempat di boking tapi
belum terbayar’, alhasil kami kena Tipu
Tapi.., bukan Rokhman kalau menyerah secepat itu…
Rencana tetap rencana…, kami putuskan tetap berangkat ke
Lombok dan mendaki Gunung impian kami, Rinjani….
Karena uang yang untuk boking tiket bukan uang ku, dan aku
yang boking, sebagai bentuk tanggungjawab, aku ganti dengan membayar sebagian
biaya perjalanan ke pulau Lombok itu.., kami putuskan, kami ke Lombok
menggunakan jalur darat dan laut..
Hari H pun tiba, karena kami dari berbeda daerah, aku dari Kebumen
dan teman saya (Mr. Sapto} dari Semarang, kami janjian ketemuan di Terminal
Bungurasih Surabaya. Dan berangkat lebih awal dari jadwal yang kami sepakati
dulu.
Jum’at 01 November 2013, sore itu aku berangkat seorang diri
dari Kebumen, di antar ke Terminal Bayangan (kedungbener) oleh seorang yang
Spesial (DULU). Dari Terminal bayangan Kedungbener, aku naik Bus Mulyo menuju
Terminal Giwangan Yogyakarta. Dari Terminal Giwangan, aku langsung nyambung Bus
bersiap menuju Surabaya. Bus yang ku naiki malam itu adalah Bus Sumber Kencono,
yaa.. Bus yang terkenal dengan keExtreman cara mengemudi nya. Benar saja..
malam semakin larut, setelah Bus melewati kota Solo, bus melaju dengan tidak
wajar pada bus umum lain nya (rasain sendiri deh Bus Sumber Kencono..!!)
Singkat cerita, hari mulai pagi, dan sabtu shubuh bus
memasuki Terminal Bungurasih Surabaya. Tempat yang kami sepakati untuk ketemuan
dengan pak Sapto. Mungkin aku datangnya terlalu pagi, aku nunggu di Masjid
terminal sembari shubuhan…
Hari mulai terang, waktu menunjukan jam 6 pagi, dan pak Sapto
pun belum ada kabar kapan sampai nya. Masih menunggu di masjid terminal, dan
akhirnya sekitar jam 7 pagi, pak Sapto muncul dengan ciri khas nya..
(cengengesan)
Setelah bertemu, dan mempersilahkan istirahat sejenak,
sembari berbincang bincang di area masjid terminal, kejutan pagi itu, teman
kami satu lagi muncul dari arah terminal, yaa… siapa lagi kalau bukan si
Rendy…? Bocah yang selalu di Culik untuk berpetualang oleh pak Sapto.. akhirnya
kami menjadi Bertiga J
Hari mulai terlihat siang, kami bersiap melanjutkan
perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah menuju Banyuwangi. Yaa.. kota di
ujung timur pulau Jawa ini sebagai gerbang perpisahan dari tanah jawa . pagi
itu kami menaiki bus ekonomi tujuan Surabaya – Banyuwangi dengan tarif
Rp.40.000/orang. Awalnya kami nyaman nyaman saja, tapi setelah beberapa jam
perjalanan, tepatnya sekitar jam 11 siang, bus masuk tempat seperti terminal di
kabupaten Probolinggo. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, kami di paksa oper bus jika pengin terus melanjutkan ke
Banyuwangi. Dengan perasaan kecewa, kami turuti. Si kondektur bus mencarikan
kami bus nya, kami pun nurut…
Setengah kecewa kami melanjutkan perjalanan dengan bus
operan, tak kami sangka, setelah bus melaju setengah jam perjalanan dari
terminal di Probolinggo, ternyata Bus yang di pilihkan oleh si kondektur bus
sebelumnya, tujuan nya bukan ke banyuwangi, tapi ke Kota Jember.. alamaaaak….
Kecewa… yaaa…, sempet kami kecewa, karena kesalahan sedikit
dari apa yang sebelumnya kami rencanakan bakal berakibat fatal.. aku tahu itu…
Dengan bermodalkan GPS dari hp jadul (sony w20i), kami
meyakinkan diri kalau kami tetap bakal ke Banyuwangi, walaupun arah perjalanan
ini memutar lewat Selatan…
Sekitar jam 2 siang, kami sampai terminal Jember. Tanpa pikir
panjang, kami langsung mencari Bus untuk terus melanjutkan perjalanan kami.
Kami dapati Bus langsung tujuan Bali
(kami tidak tahu tujuan akhir Bali sebelah mana). Si kondektur bus tersebut
pasang tarif Rp.80.000/orang sampai Bali, kami nego sebentar akhirnya kami
dapat tarif special Rp.65.000/orang.
Sekitar jam setengah 3 sore, bus mulai meninggalkan terminal
Jember, berjalan pelan kea rah timur sembari mencari penumpang penumpang lain.
Bus sangat pelan, bahkan sering berhenti tanpa menaik turunkan penumpang.
Kegelisahan mulai mengusik.. pasti bakal tak sesuai rencana, karena dari awal
memang sudah tak sesuai jadwal. Hallah.. kita nikmati aja perjalanan yang ada…
Hari mulai sore, bus tetap berjalan pelan. Sekitar jam 6
sore, akhirnya kami sampai pelabuhan Ketapang. Bus langsung masuk kapal dan
kami turun dari bus untuk menjadi penumpang kapal dalam penyebrangan ke Pulau
Bali. Yang aku ingat, kami di atas kapal pas waktu Maghrib. Kami nikmati senja
di selat Bali dengan pemandangan megahnya Gunung Raung.
Satu jam penyebrangan, kami naik ke Bus dan melanjutkan
perjalanan kembali. Baru masuk Bus, aku tertidur (tak ada cerita saat aku tertidur).
Sekitar jam 11 malem waktu setempat, Bus masuk terminal. Aku kira masuk
terminal Ubung, tapi ko ini terminal Singaraja ? aduuuh… semua penumpang turun, karena Bus hanya
sampai terminal ini saja. Kami pun turun dan berusaha mencari kendaraan untuk
melanjutkan perjalanan ke Lombok.
Karena hari sudah malam, dan terminal itu beroprasi tidak 24
jam, di terminal kami pun tidak mendapatkan kendaraan. Ada sih kendaraan, tapi
meragukan, karena hanya sebuah Angkot kecil dan yang menawari kami orangnya
sangar, besar dan bertato (calo malam) dengan tarif 40 ribuan perorang hanya
sampai terminal Ubung. Kami pun tidak mau dan berusaha mencari kendaraan
lainnya.
Kami keluar terminal dan berjalan kaki ke arah (mungkin)
timur, tapi.., bukannya mendapat angkutan malah kami nyasar. Hari sudah lewat
tengah malam, dan kami berusaha mencari angkutan atau tumpangan ke arah
terminal Ubung. tapi usaha kami tetap sia sia atau Zonk..
Waktu terus berjalan, dan sekitar jam setengah 1 dinihari,
kami terdampar di Pasar Beringkit (Badung), disana ada penjual Nasi Goreng yang
sedang mau tutup, kami samperin, ternyata penjualnya asli orang Bandung Jawabarat
dengan kentalnya logat Sunda dalam bahasanya.
Setelah ngobrol sana sini, si
Bapak penjual nasi goreng itu menawarkan ke kami kalau mau mengantar kami ke
terminal Ubung dengan sepeda motor nya. dengan basa basi alasan tidak enak
perasaannya kalau sudah ngeropotin, kami terima juga tawarannya.
Setelah tenda gerobak nasi goreng nya selesai di beresin,
kami bersiap di antar dengan sepeda motor nya ke Terminal Ubung, tapi… harapan
itu pupus ketika motor nya tiba tiba mogok atau tidak bisa menyala. Di perparah
lagi waktu itu turun hujan lebat. Kami pun berteduh di meja meja lapak pasar
Beringkit. Terlihat si bapak penjual nasigoreng sibuk memperbaiki motor nya,
sesekali kami membantu nya mengecek mesin, aki atau busi nya. dan tak jua si
motor mau menyala. Akhirnya, karena kondisi kami sudah pada lelah dan cuaca
hujan lebat, kami pun tertidur di atas meja lapak pasar.
Sekitar jam 3 dinihari, kami terbangun dan hujan sudah reda.
Kami tahu tujuan kami masih jauh, dan kami segera bersiap melanjutkan
perjalanan. Kami ke pinggir jalan raya dan menunggu kendaraan apasaja yang bisa
mengantar kami ke arah tujuan kami. Banyak kendaraan yang lalu lalang, singkat
cerita, kami di beri tumpangan ke terminal Ubung oleh pemuda asli Bali yang
memang mau satu arah dengan kami, nama nya Bli Komang. Dia ke Pasar Ubung, kami
ke terminal Ubung, dan kami pun naik Mobil nya sampai terminal Ubung, dengan
memberi upah (ongkos) Rp.10.000/orang.
Kami tidak masuk terminal, karena kata nya banyak banget
calo bergentayangan di dalam terminal. Tak lama kami nunggu di luar terminal
dan kami pun mendapat Bus tujuan langsung terminal Bertais (Mataram) dengan
tariff Rp.100.000/orang. Kami pun masuk bus, duduk paling belakang dekat
Toilet. Sekitar satu jam perjalanan, bus pun sampai Pelabuhan Padangbai. Kami
pun keluar dari bus dan segera mencari tempat tidur di Kapal Ferry. Kami tertidur
beralaskan kasur yang tersediakan di kapal.

Kami terbangun sebelum matahari terbit, kami masih berada di
perairan selat Lombok. Kami keluar dari ruangan kapal dan menikmati pagi
sembari menunggu matahari terbit dari atas kapal. Yaa.. dari mulai awal
perjalanan, baru saat ini lah kami menikmati nya
J
Sekitar jam setengah 8 pagi, kapal bersandar di dermaga
pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Selamat datang di Bumi Lombok…!! . saat kapal
bersandar, kami semua masuk lagi ke dalam Bus untuk melanjutkan perjalanan. Bus
langsung mengarah ke Mataram, dan tak lebih dari satu jam kemudian bus masuk
terminal Bertais Mataram. Bukan terminal kalau tak ada Calo.., yaa… di terminal
ini calo nya merajalela. Kami keluar bus di kerubutin calo, dan kami bisa lolos
karena alesan mau sarapan dulu J
Keluar dari terminal kami mencari warung makan. Sarapan di
kota Mataram sekitar jam 9 pagi. Tak lama kami sarapan, kami bersiap
melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya ialah ke Aikmel, Lombok Timur. Kami
menggunakan mini bus dengan tarif Rp.20.000/orang saat itu. Bus ini kebanyakan
ngeTem (menunggu penumpang), perjalanan paling baru 2 Km aja kami di dalam bus
sekitar 1 jam. Di sela sela perjalanan kami itu, kami temui rombongan yang akan
mendaki Gunung Rinjani juga. Empat pemuda dari Sulawesi, kami pun satu angkutan
satu tujuan dan satu perjalanan.
Sekitar jam 12 siang, akhirnya kami sampai juga di simpang
Pasar Aikmel. Kami turun di sana, dan di sini tempat akhir kami mempersiapkan
perbekalan untuk mendaki. Sembari yang lain belanja kebutuhan pendakian, saya
coba tawar menawar angkutan menuju titik akhir sebelum pendakian, yaitu desa
Sembalun Lombok Timur, Desa nya Para Pemimpi. Tawar menawar agak alot, Calo nya
minta tarif Rp.20.000/orang, (dulu Cuma 15.000). oke.. kami sepakati tarif nya,
dan selesai belanja kami pun terus melanjutkan perjalanan menuju Desa Sembalun
dengan Mobil bak terbuka ber-Plat H (semarang).

Tak banyak cerita perjalanan dari Aikmel ke Sembalun, hanya sedikit
insiden Mobil nya ga kuat nanjak kelamaan dan harus beristirahat sejenak di
tengah perjalanan dengan lebatnya hutan hutan bagian dari taman Nasional gunung
Rinjani. Pemandangan menakjubkan mulai kami nikmati. Bukit bukit dan pegunungan
membentang megah di kanan kiri kita saat memasuki kawasan desa Sembalun.
Tampak di kejauhan Desa Sembalun diapit
pegunungan pegunungan. Pada saat pertama melihatnya aku seakan menganalogikan
desa itu seperti desa para pemimpi. Karena di desa Sembalun banyak para orang
orang yang terus bermimpi untuk bisa menjejakkan kaki di Puncak Gunung Rinjani.
Dan ini juga mungkin mimpi kami yang terwujud bisa datang kesini
. Melihat dan menikmati keindahannya, berasa berada
di dimensi lain. Jauh dari peradaban kehidupan perkotaan. Damai memandangnya.
Sekitar jam setengah 4 sore, kami Registrasi Pendakian kami
ke Basecamp. Supir menurunkan kami tepat di Pos Pendaftaran Pendakian Gunung
Rinjani. Dari sini kami dapat langsung melihat kegagahan Gunung Rinjani .
Registrasi Pendakian Saat itu masih Rp.2500/orang untuk izin mendaki. Izin
sudah di kantongi, kami lanjutkan perjalanan kami dengan mobil bak menuju
sembalun Lawang, Desa terakhir tujuan kami. Setengah jam kemudian kami sampai
sembalun lawang. Kami istirahat sebentar, sholat dan persiapan terakhir untuk
mendaki. Membeli nasi bungkus untuk perbekalan pendakian sore itu.
Sore itu, kami bertiga berangkat mendaki duluan. Teman teman
dari Sulawesi katanya masih menunggu dua temannya lagi yang sedang dalam
perjalanan juga menuju sembalun.
Melangkah pelan, ciri khas kami mendaki. Sembari menikmati
perjalanan sore. Menyeberangi sungai, melintasi padang rumput, menaiki
perbukitan, melewati hutan dan singkat cerita kami sampai juga di savana.
Bagian kemegahan Gunung Rinjani. Sayangnya, luas savana yang membentang, saat
itu baru terbakar. Sangat di sayangkan..
Hari semakin sore, kami sudah tempuh perjalanan 1,5 jam,
kami pun sampai pos 1, Pos Pemantauan. Sebuah gazebo kecil beratap seng sebagai
petanda kami berada di pos 1 jalur pendakian Gunung Rinjani lewat Sembalun. Pos
yang teletak ditengah jalur di daerah savanna serta berada pada ketinggian
1300mdpl. Pos ini tidak ada sumber air. Kami istirahat, tak berselang lama rombongan
teman teman dari Sulawesi menyusul kami. Mereka menjadi ber-enam. Tak banyak
apa yang kami lakukan di Pos 1 ini, hanya beristirahat mengatur nafas nafas
kami. Dan kami pun melanjutkan perjalalanan kembali menuju Pos selanjutnya.
Dari pos 1 kami ber-sembilan melangkah bersama, hari semakin
sore dan matahari mulai bersembunyi di balik megah nya gunung Rinjani. Langkah
terus kami ayunkan, hari mulai gelap dan kami masih di tengah savanna.
Perjalanan di jalur landai, langkah semakin cepat dan sekitar jam setengah 7
malem, kami sampai di Pos 2, Pos Tengengean. Pos yang terletak di sebelah kiri
jalan agak menjorok kedalam dengan ketinggian 1500mdpl, dan didepan pos ini
terdapat sungai kering serta jembatan diatasnya yang merupakan jalur pada rute
ini (dulu), kalau sekarang pos nya lebih keatas lagi di area savanna yang terbuka.
Di pos ini kami bisa jumpai sumber mata air. Kami istirahat, sholat dan
mengambil air. Teman teman dari Sulawesi berencana bermalam di pos 2 ini.
Katanya sudah terlalu kelelahan. Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan.
Langkah demi langkah terus kami ayunkan. Warna jingga nya
langit kami nikmati. Ketenangan dan kesunyian alam adalah keindahan bagi kami.
Sekitar setengah jam perjalanan, kami istirahat dan memakan bekal nasi kami. Tak lama, kami
melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos 3. Melangkah dan akhirnya kami di
ujung savanna, melewati jembatan sungai kering, menaiki dan melintasi
perbukitan kembali dan akhirnya kami sampai juga di Pos 3 atau Pos Pada Balong.
Di pos 3 ini terdapat bangunan gazebo, terletak persis
dipinggir aliran lahar/sungai kering, pada ketinggian 1800mdpl. Kondisi Pos 3
ini masih sangat bagus dibanding dua pos sebelumnya. Dari pos ini menuju
Plawangan kita akan dihadapkan dengan tanjakan bukit Sembilan atau Bukit
Penyiksaan. Karena kita memang melewati sembilan Bukit. Kondisi kami sudah
lumayan lelah dan pasti nya sangat mengantuk, tak mungkin kami melanjutkan perjalanan melintasi
bukit/tanjakan penyiksaan yang berada di hadapan mata. Disini kami putuskan
untuk bermalam. Sembari melepas lelah, memasak air untuk sekedar membuat
minuman hangat dan bersiap kami untuk beristirahat. Kami tidak pasang tenda,
karena malam itu kami tidur di gazebo/gubuk, hanya berselimutkan sleepingbag.
Sekitar jam 8 malam, Aku yang paling cepet tidur nya malam itu karena sangat
mengantuk J
Sedikit trik untuk mendaki Rinjani dengan tenaga pas pasan,
kita naik dari Basecamp usahakan sore hari, karena saat kita melintasi padang
savanna yang begitu luas, cuaca sudah tidak terlalu panas.
Malam berganti pagi, kami terbangun dan pagi itu kami bersiap melanjutkan
perjalanan. Setelah sarapan dan re-packing, kami melanjutkan pendakian ini.
Sekitar jam 7 pagi, kami tinggalkan Pos 3 dan bersiap melintasi Tanjakan/bukit
penyiksaan. Yaa… dinamakan bukit penyiksaan, mungkin karena tanjakan/bukit ini
benar benar menyiksa bagi yang melintasi nya.. entahlah…

Langkah pelan kami ayunkan, Melangkah menaiki bukit demi
bukit dengan pemandangan yang luar biasa. Bukit demi bukit berada di hadapan
kami, dan Nampak luas nya savanna yang telah kami lewati hari kemarin saat kita
menoleh ke belakang. Hari beranjak siang, sesekali kami bertemu pendaki yang
turun beserta porter nya. tapi tak satu pun kami bertemu pendaki yang naik hari
itu. Tak jarang juga kami temui monyet liar menghampiri kami saat kami
istirahat.
Sembari berjuang melintasi bukit/tanjankan, kami nikmati perjalanan ini, memandangi puncak
Rinjani yang Nampak berselimut kabut atau mungkin juga seperti badai
puncak. Kami terus melangkah, bukit demi
bukit kami lewati. Akhirnya sekitar 3-4 jam perjalanan, kami berada di ujung
bukit penyiksaan dan sampai juga di pos Plawangan. Sebuah dataran yang cukup
luas untuk beberapa tenda yang terletak diatas gigiran punggungan yang
menyatukan dengan punggungan menuju puncak serta berada pada ketinggian
2639mdpl. Dari sini terlihat jelas Segara anakan dan gunung baru. Disini
terdapat sumber air yang berupa pancuran. Puncak Rinjani terlihat jelas dari
sini. Perlu di catat, Hati-hati terhadap monyet didaerah ini mereka sangat
agresif untuk merebut makanan setiap pendaki yang lengah.
Sejenak kami melepas lelah, karena Ego ku yang besar dan
terburu buru, aku usulkan kita melanjutkan pendakian ke puncak hari itu juga.
Tapi.. Rendy dan pak Sapto seketika itu juga tidak menyetujui. Mungkin karena
kondisi sudah kelelahan, atau mungkin hari sudah siang, atau mungkin juga
karena Nampak badai di jalur Puncak. Akhirnya kami putuskan, kami bermalam di
area camp Plawangan dan melanjutkan ke puncak esok hari nya. Setelah dirasa
cukup istirahatnya, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat ngecamp
yang dekat sumber air nya, dari awal pos plawangan kira kira sekitar 1 Km
perjalanan dengan jalur datar.
Lokasi seluas plawangan, hari itu tak ada satu pun tenda
para pendaki, atau hanya kami saja siang itu yang berada di sana. Setelah tenda
terpasang, kami bagi tugas. Aku dan Rendy mencari air turun ke tebing, dan pak
Sapto jaga tenda. Sumber air yang berada di antara perbukitan, memaksa kami
untuk menuruni dan memutari bukit. Yaa sekitar belasan menit untuk menuju titik
air. Mata air dari rembesan bukit yang di bikin menjadi aliran menggunakan pipa
kecil. Air nya yang dingin dan sangat segar, cukup mengurangi lelahnya kami
hari itu.

Setelah air kami dapat cukup, kamipun kembali ke tenda, saat
kami naik ke atas menuju tenda, rombongan teman teman dari Sulawesi yang hari
sebelumnya kami berangkat bareng, sudah berada di Plawangan dan sedang memasang
tenda. Kami berdua menghampiri mereka dan sempet ngobrol ngobrol. Di sekitar
tenda mereka terdapat banyak gerombolan monyet monyet liar, sebagai hiburan tersendiri
saat memberi makan monyet monyet tersebut. seakan memberi sambutan selamat
datang di Surga nya para pendaki. Tapi saat aku mengajak bermain monyet monyet
itu tanpa membawa makanan, malah aku di kejar kejar salah satu monyet yang
paling besar di gerombolan itu. Beruntung tak sampai kontak fisik, hanya
sekedar di kejar dengan gaya si monyet yang mengisyaratkan kalau dia yang
berkuasa di lokasi itu.
Kami pun kembali ke tenda kami yang berjarak sekitar 500
meter dari tenda rombongan Sulawesi. Hari menjelang sore, dan kabut angin mulai
turun menyelimuti area camp. Tak banyak yang kami lakukan sore itu. Hanya
bercanda canda ria di dalam tenda yang bergoyang di terpa kencangnya angin sore
itu.
Hari semakin gelap dan kami masih bertahan di dalam tenda,
memasak makan dan menikmati hangatnya minuman kopi instan malem itu. Angin yang
tak kunjung reda memaksa kami bertahan terus di dalam tenda. Masak makan dan
sholat pun kami lakukan di dalam tenda.
Rencana.. kami melanjutkan ke Puncak pada jam 2 dinihari
esok. Setelah kami makan sholat dan set alarm, sekitar jam 8 malam kami semua
pun tertidur.
Hari semakin larut, dan malam berganti pagi. Alarm yang kami
siapkan pun berbunyi. Kami semua terbangun dan segera memasak air untuk
menghangatkan dan menyegarkan tubuh kami dan sebagian untuk perbekalan ke
puncak. Setelah makan, minum dan segala nya siap, kami ikat ujung ujung tenda
kami ke batang batang pohon, khawatir tenda kabur terhempas kencangnya angin
saat kami tinggal.
Sekitar jam 2 dinihari, kami langkahkan kaki ini menuju arah
Puncak gunung Rinjani. Perjalanan kami melewati tenda rombongan Sulawesi.
Mereka pun sedang bersiap melanjutkan ke puncak pagi itu. Sembari pamit, kami
melangkah duluan melanjutkan perjalanan.
Langkah kami mulai menapaki perbukitan, udara masih terasa
dingin. Bekal minuman panas yang kami bawa pun sudah berasa dingin. Langkah
kecil terus kami ayunkan , setapak berpasir sedikit mempersulit langkah kami.
Harus pintar meilih jalan untuk kita pijak. Masih sekitar jam 3 dinihari dan
senter yang kami bawa sebagai penerangan pun mulai redup. Akhirnya sekitar jam
setengah 4 dinihari kami sampai persimpangan dan kami duduk duduk sebentar
disini..
Kami sadar, kalau duduk terlalu lama kami akan semakin
merasa kedinginan., kami pun melanjutkan perjalanan. Pelan pelan asal berjalan,
waktu terus beranjak pagi, cahaya fajar mewarnai langit timur meski masih
sekitar jam 4 pagi. Sesekali kami istirahat karena semakin jauh kami melangkah,
semakin tinggi dan oksigen semakin tipis karena masih gelap, Udara semakin
dingin.
Saat kami istirahat, 2 pendaki dari new Zeland menyusul
kami. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali di tengah dingin nya udara saat
itu. 2 pendaki dari New Zeland juga Nampak kewalahan dan mereka istirahat. Kami
pun mencoba terus berjalan walau pelan.
Langkah demi langkah terus kami pijakkan.., cuaca semakin
memburuk, suhu semakin dingin, angin semakin kencang. Tak bisa kami tutupi
kalau kami harus lebih sering berhenti. Aku yang berjalan paling depan sesekali
juga berhenti karena angin saat itu
begitu kencang dan suhu udara semakin mengecil. Sadar hari semakin pagi, tak
lupa ku tunaikan sholat shubuh hanya beralaskan Jaket. Selesai sholat, ku duduk
sebentar menunggu Pak sapto dan si Rendy. Akhirnya mereka menyusulku.
Hari itu kamilah rombongan yang paling depan. Kami pun
melanjutkan perjalanan kembali di tengah riuh nya angin shubuh bercampur air
kabut. Sesekali pak Sapto menggigil hebat karena dinginnya pagi itu. Aku
perkirakan suhu pagi itu berkisar 5-7*C bercampur angin. Saat kami berhenti, ada 2 orang lagi
menyusul kami, mereka pendaki/wisatawan asal Prancis. Kami pun melanjutkan
perjalanan kembali, dan mereka pun tersusul kembali oleh kami. Kami bertiga
berusaha melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak Rinjani.
jalur pasir bebatuan yang rapuh dan gampang ambrol ketika di injak.
Puncak semakin dekat, angin semakin kencang dan suhu semakin
dingin. Pak sapto kedinginan hebat. Bukan hanya pak sapto, tapi aku dan rendy
juga kedinginan. Tapi paling parah ya pak Sapto. Mencoba kami melawan rasa
dingin itu dengan terus berjalan, tapi usaha kami terhambat karena angin
semakin kencang menjelang puncak. Waktu itu sekitar jam setengah 5 pagi.
Kami yang tidak tahan dengan dingin dan kencangnya angin,
akhirnya berlindung di bawah batu tepi jurang. Yaa… sangat tipis dan menghadap
jurang. Dan saat itu penerangan kami kurang (senter nya redup). Tak jarang,
batu atau kerikil yang kami pijak langsung jatuh ke jurang. Dengan hati hati,
kami berlindung di balik batu besar.
Cukup lama kami bertahan di balik batu sembari menunggu
angin tak lagi kencang. Puncak tinggal 50-100 meter lagi. Saat angin tak
sekencang tadi, kami pun melanjutkan menuju puncak. Dengan kedinginan dan bibir
kami untuk berbicara pun terasa sulit karena kelamaan kedinginan. Langkah berat
di kerikil berbatu terus kami pijakkan. Di titik ini juga kaki ku tak mau
kompromi dan terus bergetar. Di antara nafas yang tersengal, di tanjakan
berpasir menjelang puncak, kami yang berjalan kelelahan, menyeret langkah
menembus tanjakan berpasir.

Menjelang puncak, kami tersusul oleh satu pendaki wanita
dari Canada. Dia seorang diri dan Nampak masih kuat berjalan ke puncak.
Kami
pun berjalan pelan di belakangnya. Di antara putus asa kami terus berjalan,
melewati batasnya sendiri.
Kami semua pun memiliki masa-masa terberat saat
keputus asaan menghampiri.
Saat batas kemampuan kami diuji. Saat lutut atau
nafas tidak selalu bisa diajak bekerja sama. kami mencoba menanganinya dengan
cara masing-masing.
Dan tanpa terasa, masa-masa putus asanya terlewatkan. Saat
akhirnya kami berhasil mencapai garis akhir. kami gapai Puncak Rinjani bersamaan
sang mentari terbit. (jam stengah 6 pagi) Alhamdulillah…
Yaa…. Puncak yang selalu kami impikan, puncak Rinjani…. Pagi
itu kami gapai.. wanita pendaki asal Canada tak lama di Puncak, dia terus
turun.., dan tak lama kemudian di belakang kami menyusul satu lagi pendaki pria
dari Austria. Dia pun tak lama di puncak dan terus turun.
Rasa syukur dan kagum tak henti hentinya kami expresikan..,
sujud syukur, nangis terharu dll. Pagi itu hanya kami bertiga yang berada di
puncak Rinjani. Tepat tanggal 1 Muharram 1435 H. sangat special.. beriring
matahari semakin tinggi, cuaca pun semakin cerah. Tak bosan kami menikmatinya.
Rasa lelah dan beratnya perjuangan menggapainya seakan akan kami lupa. Yaa…
disitu dulu ku berjanji untuk kembali. Janji yang terobati “Puncak Dewi Anjani”
. memang benar adanya, gunung menginginkan aku kembali.
Sekitar jam setengah 7 pagi, rombongan dari Sulawesi
menyusul sampai di Puncak. Mereka lengkap ber-enam. Yaa… hari itu kami lah yang berdiri di Puncak
tertinggi ketiga di Negeri indah ini. 3 pemuda dari Jawa (kami) dan 6 pemuda
asal Sulawesi. Mungkin keindahan itu lebih dari apa yang kami expresikan dengan
kata kata. Ku perhatikan wajah-wajah yang tersenyum cerah, memandang alam yang
seindah puisi, dan membiarkan diriku kembali
terharu. Cukup lama kami di Puncak. Meluapkan kegembiraan kami ketika
apa yang kita perjuangkan, kita yakin akan kita gapai..

Sekitar jam 8 pagi kami turun dari puncak. Berjalan pelan
sembari menikmati keagungan Tuhan sepanjang jalur yang kami lewati. Tak banyak apa yang harus kami
ceritakan perjalanan turun dari puncak menuju tempat kami ngecamp. Sebelum
sampai tenda, kami mampir dulu ke sumber air untuk bersih bersih dulu. Dan
terus kembali ke tenda, sampai di tenda
langsung mencari sisa logistik yang bisa langsung dimakan..
Hari itu, kami berencana turun ke Danau Segara Anak, tapi…
mungkin karena Ego ku juga, semua itu gagal. Kami tak singgah di "si
cantik" Segara anak. Aku yang pengin nya terburu buru untuk turun dan
pulang ke jawa. Bukan karena aku tak betah di Gunung Rinjani atau Lombok,
tapi.. Rutinitas harian ku yang menggoncang fikiran ku untuk secepat mungkin
pulang ke Jawa. Maaf kan aku… aku tau ego ku bikin kalian kecewa… . Aku yakin,
Rinjani sekarang, esok atau puluhan tahun kedepan Rinjani masih akan selalu
cantik..
Setelah istirahat, beres beres dan packing barang barang. Selepas
tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Kami tinggalkan Plawangan jam
setengah 1 siang. Melangkah meninggalkan jejak jejak keindahan kami. Menuruni
bukit penyiksaan dengan berjalan pelan. Satu setengah jam kami turuni bukit
penyiksaan, kami sampai pos 3. Nampak banyak Pendaki yang sedang beristirahat
di pos tersebut. Kami istirahat sebentar dan kembali melanjutkan perjalanan
turun kami.
Karena kondisi fisik pak Sapto Nampak kelelahan, dia
berjalan sedikit lebih pelan dari kami. Maaf kan aku yang kurang sabaran saat
itu. :-D . aku dan Rendy selalu berjalan di depan, dan beberapa kali kami
berhenti menunggu pak Sapto menyusul kami. Yaa seperti itulah perjalanan kami
dari pos 3 sampai bawah. Kami sampai desa sembalun sore hari sekitar jam
setengah 5 an. Sembari istirahat kami menunggu angkutan yang siap ke arah kota
(aikmel).
Lama kami menunggu, tak kunjung ada angkutan yang ke arah
kota. Sampai sampai kami di beritahu oleh warga, kalau se sore itu angkutan
langsung ke kota sudah tidak ada. Aduuuhh… tak mungkin juga kami menunggu pagi
kembali untuk ke kota. Sembari menunggu
dan berfikir, satu orang pendaki dari Sulawesi ternyata juga ikut turun, dia baru
sampai bawah setengah jam setelah kami. Kami pun mencoba bertanya Tanya sama
warga bagaimana cara nya ke kota hari itu juga. Akhirnya kami di anjurkan untuk
ke tempat pengepulan sayuran di sembalun bumbung dan selanjutnya ikut mobil
sayur ke kota. Kami pun mengikuti petunjuk warga itu.
Dari sembalun lawang,sekitar jam 5 sore kami di carikan
mobil bak untuk ke arah sembalun bumbung. Mungkin sekitar 3-5 km perjalanan,
kami sampai. Kami segera mencari mobil sayur yang ke arah kota. Banyak yang
menawari kami, tapi ada satu yang siap mengantar kami langsung ke Pelabuhan,
dengan syarat siap menunggu. Akhirnya kami terima tawarannya.
Kami pun menunggu mobil di isi sayuran, kami kira maghrib
sudah bisa berangkat, ternyata setelah mobil penuh dengan sayuran, sopir mau
nya berangkat setelah jam 8 malem. Hadeeeh… tak apalah…, sembari menunggu, kami
gunakan waktu untuk istirahat, sholat dan bercerita cerita sama warga setempat.
Dan ta terasa waktu semakin malam dan kami pun di panggil untuk siap siap
berangkat ke kota.
Berada di Tumpukan sayur sangat tidak nyaman., untuk duduk
pun kami tidak bisa. Kami harus merebahkan badan agar sedikit lebih nyaman.
Yaa… yang di tengah sih nyaman sampai bisa merem di perjalanan, tapi aku..?
yaa.. aku di pinggir dengan rebahan diatas keranjang sayur. Jangankan untuk
merem, untuk tidak pegangan aja aku tidak berani. Yaaah nikmati sajalah…
Sekitar jam 11 malem, mobil yang kami tumpaki masuk pasar
sayur Mandalika. Semua sayuran yang di dalam bak mobil memang untuk di turunkan
di pasar Mandalika ini. Sembari menunggu sayur semua di turunkan, kami hanya
duduk duduk saja di samping mobil. Setengah jam kemudian, mobil kosong dan siap
mengantar kami ke Pelabuhan. Sebelum ke Pelabuhan, teman kami yang dari
Sulawesi minta di antar dulu ke Sekret Mapala UNRAM, mobil pun segera melaju ke
arah Univ Negri Mataram dan selanjutnya ke arah Pelabuhan lewat arah Praha
Lombok tengah. Sempat gerimis di perjalanan menuju pelabuhan. Sekitar jam
setengah 1 malam, akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Lembar dengan membayar
Rp.60.000/orang kepada supir mobil yang mengantar kami.
Di Pelabuhan, teman dari Sulawesi itu tak mau bareng kami
menyebrang ke Bali. Akhirnya kami membeli tiket Kapal bertiga dan langsung
masuk kapal. Tepat jam 1 dinihari, kapal meninggalkan Pelabuhan Lembar Lombok. Kami
meninggalkan Lombok dengan membawa kenangan yang Indah. membawa kenangan akan
sisi Indah alam Indonesia yang akan sulit kami lupakan..
Karena lama kami tak mandi, akhirnya kami bisa juga mandi di
kapal malam itu. Selesai pada mandi, kami mencari tempat di kapal untuk tidur,
dan malam itu kami tertidur di kapal.

Pagi menjelang, kami terbangun, kapal yang masih di perairan
segera bersandar ke dermaga Pelabuhan Padangbai. Sekitar jam setengah 6 pagi Kapal pun bersandar, kami keluar
kapal, keluar pelabuhan dan menunggu Bus untuk melanjutkan perjalanan Pulang ke
Jawa. Tak lama kami menunggu, bus pun datang, kami segera naik untuk tujuan
terminal Gilimanuk.
Bus pun meninggalkan Pelabuhan Padangbai, bus melaju kearah barat. Tapi belum
lama kami meninggalkan Pelabuhan, bus masuk Pasar dan malah ngeTem di pasar.
Lama sekali bus berhenti nya, hampir satu jam kami menunggu bus berjalan
kembali. Sembari menunggu bus melanjutkan perjalanan, kami masuk pasar untuk
sekedar berbelanja makanan (buah). Sekitar jam 8:30 an pagi, bus pun bergerak
meninggalkan pasar dan melanjutkan perjalanan. Bus terus melaju ke barat
melintasi kota demi kota di pulau Bali. Akhirnya sekitar jam 2 siang, bus
sampai depan terminal Gilimanuk. Kami pun turun dan bersiap menyeberang ke
Ketapang, Banyuwangi.

Dalam penyebrangan, tak banyak cerita. Satu jam menyebrang,
Alhamdulillah kami sampai Ketapang dan menginjankan kaki lagi di tanah Jawa.
Kami keluar Pelabuhan dan segera mencari makan siang. Menu bakso dan mie ayam
menjadi pilihan kami. Usai makan, kami bersiap melanjutkan kembali perjalanan
pulang. Tujuan kami selanjutnya adalah Surabaya. Karena lumayan lama kami
menunggu di pintu keluar pelabuhan mencari bus tujuan Surabaya tak juga kami
jumpai. Akhirnya kami naik angkot ke terminal Ketapang. Dengan tarif 5000/orang
kami pun sampai terminal ketapang. Dan bus tujuan kota Surabaya sudah menunggu
di terminal. Kami pun langsung masuk bus.
Bus meninggalkan terminal sekitar jam 4 sore, kami duduk
paling belakang dan tak lama bus meninggalkan terminal ketapang, kami pun
tertidur. Kami terbangun lagi ketika bus masuk terminal Probolinggo. Bus
semakin penuh dan berdesak desakan.
Setelahnya aku pun tak bisa tidur lagi sampai dengan bus masuk terminal
Bungurasih Surabaya.
Di terminal Bungurasih, kami berpisah. Aku melanjutkan
perjalanan ke Jogja. Pak Sapto dan Rendy ke Semarang. Aku pun naik bus Sumber
Kencono lagi menuju Jogja. Bus yang cukup membuat jantung tidak tenang karena gaya mengemudi
nya. aku sampai terminal Giwangan jam
setengah 6 pagi. Karena hari itu aku jadwalkan masuk kerja di Kebumen, aku pun
langsung melanjutkan perjalanan ke kota Kebumen. Dengan Bus Efisiensi dari
terminal Giwangan akhirnya Alhamdulillah sampai Kebumen jam 8:30 pagi. Aku
langsung pulang ke rumah, mandi dan langsung masuk kerja jam 9 pagi. TAMAT
“Nyanyian bisu itu masih sama, saya masih
mengingatnya persis seperti ketika waktu kebersamaan menapaki jalur-jalur
setapak berpasir yang dingin berkepanjangan. Bintang yang berjatuhan dan
hembusan angin yang menembus kulit. Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa
rapuh dan gelisah. Dan untuk kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya,
karena di sini, tempat yang suatu saat nanti kita rindukan”
Bermimpilah tentang
apa yang ingin kamu impikan...!
Pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi..!
Jadilah seperti yang kamu inginkan...!
Karena... kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk
melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan....
*Rinjani Part 2*
*Lombok, 1 Muharam 1435 H.*
Terimakasih
"SAPTO - RENDY - ROKHMAN"
______________________________